Rabu, 09 November 2016

MANAJEMEN AGRIBISNIS KOMODITAS KEDELAI

Diposting oleh Mira Sandrana di 08.20


MANAJEMEN AGRIBISNIN KOMODITAS KEDELAI
1.      KOMODITI “KEDELAI”     
Orang Cina merupakan pengguna kacang kedelai sebagai makanan yang pertama. pada sekitar tahun 1100 BC kacang kedelai telah ditanam di bagian selatan Cina dan dalam waktu singkat menjadi makanan pokok diet Cina.Kacang kedelai telah diperkenalkan di Jepang sekitar tahun 100 AD dan meluas ke seluruh negara-negara Asia secara pesat. Kacang kedelai dikenal di Eropa sekitar tahun 1500 AD. Pada awal abad ke 18, kacang Kedelai telah ditanam secara komersial di Amerika Serikat
Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia. Penghasil kedelai utama dunia adalah Amerika Serikat meskipun kedelai praktis baru dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah 1910.
Di Indonesia, kedelai menjadi sumber gizi protein nabati utama, meskipun Indonesia harus mengimpor sebagian besar kebutuhn kedelai. Ini terjadi karena kebutuhan Indonesia yang tinggi akan kedelai putih. Kedelai putih bukan asli tanaman tropis sehingga hasilnya selalu lebih rendah daripada di Jepang dan Tiongkok. Pemuliaan serta domestikasi belum berhasil sepenuhnya mengubah sifat fotosensitif kedelai putih. Di sisi lain, kedelai hitam yang tidak fotosensitif kurang mendapat perhatian dalam pemuliaan meskipun dari segi adaptasi lebih cocok bagi Indonesia.
2.      PENTINGNYA PENGAMATAN MULAI DARI:
·         DARI SISI PRODUKSI:
                   Produksi Menurun Kedelai, menunjukkan penyusutan lahan dan produksi. Pada 2000 luas lahan 824.484 ha kemudian turun menjadi 678.848 ha pada 2001 dan menyusut lagi pada 2002 menjadi 544.522 ha tahun 2002. Seiring dengan penyempitan lahan, juga produksi anjlok. Tercatat produksi kedelai pada 2000 mencapai kisaran 1 juta ton dan tahun 2001 sebanyak 827 ribu ton dan pada 2002 hanya bisa sebesar 573 ribu ton.
                   Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi kedelai tahun 2002 mengalami penurunan sebesar 18,61 persen. Dari 0,83 juta ton biji kering pada 2001 menjadi 0,67 juta ton biji kering di tahun 2001. Atau mengalami penurunan sebesar 0,15 juta ton biji kering. Penurunan ini karena turunnya luas panen kedelai sekitar 19,79 persen atau 0,13 juta hektare. Di sisi lain kebutuhan pangan cenderung meningkat 2,5-4% sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Kebutuhan  kedelai pada tahun 2003 masing-masing berjumlah 1,95 juta ton, 3 juta ton, dan Melihat data produksi akan kebutuhan kedelai pada tahun 2003 terlihat bahwa terjadi defisit untuk komoditas kedelai 1,3 juta ton Defisit kedelai ini diatasi dengan cara mengimpor. Harga kedelai saat ini mencapai kisaran Rp3500/kg . Dengan jumlah penduduk yang besar sekitar 216 juta jiwa pada tahun 2003 dan laju pertumbuhan 1.35% per tahun, maka kebutuhan kedelai akan semakinbesar di masa mendatang. Pada tahun 2005 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 220.6 juta jiwa, dan tahun 2010 sebesar 236 juta.
                   Apabila kemampuan produksi kedelai nasional tidak dapat mengikuti
peningkatan kebutuhannya, maka Indonesia akan semakin tergantung pada
impor yang berdampak membahayakan ketahanan nasional.
Negara importir utama untuk komoditi kedelai ke Indonesia adalah Amerika Serikat, dengan rata – rata share impor dari tahun 1999 – 2004 sebesar 54% dari seluruh impor kedelai Indonesia atau 1,42 juta ton per tahun.  India menempati posisi kedua dengan rata – rata share sebesar 19% (sekitar  491,935,245 kg per tahun)
Market share Negara importir
Kedelai, perkembangan produksinya dapat dibagi dalam dua periode besar, yaitu pertumbuhan yang menurun dan stagnant. Pertumbuhan menurun terjadi selama 1990-2000. Produksi rata-rata mencapai 1,4 juta ton dan menurun sebesar 3,6 %/Th. Produksi stagnant terjadi pada 2001-2006, produksi menurun drastis dari periode sebelumnya dan bergerak lambat pada angka 742 ton. Pertumbuhan produksi pun demikian rendah, hanya 0,4 %/Th. Pertumbuhan produksi tidak sejalan dengan gencarnya program bangkit kedelai. Persentase produksi terhadap kedelai dunia mengecil .

PERMASALAHAN DALAM KOMODITI KEDELAI
a)      Subsistem Up Stream Agribussiness (Hulu)/Input pertanian
ü  Industri penghasil sarana/prasarana produksi pertanian belum mampu memberikan teknologi yang bisa dengan mudah diadopsi oleh petani dengan harga yang terjangkau.
ü  Lemahnya modal petani untuk melakukan betanam kedelai
ü  Pemberian pupuk pada kedelai yang diradsa belum efisien, seperti  pemberian pupuk N yang tinggi bagi kedelai akan menghambat proses fiksasi N oleh bintir akar.

b)      Subsistem On Farm/ produksi pertanian
ü  Salah satu penyebab tidak bersaingnya harga pokok produksi produk Agribisnis di Indonesia adalah rendahnya produktivitas Produktivitas kedelai di Indonesia baru mencapai 1.23 ton per Ha hingga Tahun 2000, jauh dibawah produktivitas kedelai China yang telah mencapai 1.70 ton kedelai per Ha, dan jika dibandingkan dengan produktivitas kedelai Amerika yang mencapai 2.56 ton per Ha, kita semakin jauh tertinggal. Rendahnya produktivitas tersebut menyebabkan biaya per-satuan produk menjadi tinggi.
ü  Gairah petani dalam melaksanakan pembudidayaan kedelai menurun ,hal ini disebabkan karena bercocok kedelai dianggap tidak menguntungkan.
ü  Kemitraan dibidang agribisnis kedelai belum berkembang baik,masih sangat terbatas yang berminat untuk mengembangkan usahanya dibidang agribisnis kedelai

c)      Subsistem/ Pengolahan/Agroindustri/hilir
ü  Impor kedelai murah meningkat.Kebijakan impor kedelai merupakan suatu hal yang sangat menentukan gairah petani dalam melakukan budidaya kedelai. Penyebabnya adalah karena harga kedelai impor lebih murah dari pada harga kedelai dalam negeri. Hal tersebut antara lain disebabkan karena petani luar negeri (Amerika, Brazil, Argentina, Cina dan lain-lain) bisa memproduksi kedelai dengan biaya rendah.fluktuasi harga kedelai local dan impor sebagai berikut:
ü  Rendahnya mutu kedelai yang dihasilkan petani local

d)      Subsistem pemasaran
ü  Berdasarkan survei ini (1983), ada beberapa kesimpulan tentang kendala pemasaran:
ü  1. Produksi kedelai terpusat dalam kantong-kantong kecil yang letaknya saling berjauhan.
ü  2. Pengendalian mutu sulit diterapkan.
ü  3. Musim dan kombinasi usaha menyulitkan penilaian ekonomi.


3.      SUBSISTEM YANG BERKAITAN DENGAN AGRIBISNIS
farming system :         
1. Pembibitan
1.Teknik Benih
Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, maka benih yang digunakan harus yang berkualitas baik, artinya benih mempunyai daya tumbuh yang besar dan seragam, tidak tercemar dengan varietas-varietas lainnya, bersih dari kotoran, dan tidak terinfeksi dengan hama penyakit.

2.Penyiapan Benih
Pada tanah yang belum pernah ditanami kedelai, sebelum benih ditanam harus dicampur dengan legin, (suatu inokulum buatan dari bakteri atau kapang yang ditempatkan di media biakan, tanah, kompos untuk memulai aktifitas biologinya Rhizobium japonicum). Pada tanah yang sudah sering ditanam dengan kedelai atau kacang-kacangan lain, berarti sudah mengandung bakteri tersebut. Bakteri ini akan hidup di dalam bintil akar dan bermanfaat sebagai pengikat unsur N dari udara.

 3. Teknik Penyemaian Benih

         
 4. Pemindahan Bibit
               Pemindahan bibit yang ceroboh dapat merusak perakaran tanaman, Penanaman dengan benih yang mempunyai daya tumbuh agak rendah dapat diatasi dengan cara menanamkan 3-4 biji tiap lubang, atau dengan memperpendek jarak tanam. Jarak tanam pada penanaman benih berdasarkan tipe pertumbuhan tegak dapat diperpendek, sebaliknya untuk tipe pertumbuhan agak condong (batang bercabang banyak) diusahakan agak panjang, supaya pertumbuhan tanaman yang satu dengan lainnya tidak terganggu


2. Pengolahan
1.Persiapan
Terdapat 2 cara mempersiapkan penanaman kedelai, yakni: persiapan tanpa pengolahan tanah (ekstensif) di sawah bekas ditanami padi rendheng dan persiapan dengan pengolahan tanah (intensif). Persiapan tanam pada tanah tegalan atau sawah tadah hujan sebaiknya dilakukan 2 kali pencangkulan.


2.Pembentukan Bedengan
Pembuatan bedengan dapat dilakukan dengan pencangkulan ataupun dengan bajak lebar 50-60 cm, tinggi 20 cm. Apabila akan dibuat drainase, maka jarak antara drainase yang satu dengan lainnya sekitar 3-4 m.

3. Pengapuran
Tanah dengan keasaman kurang dari 5,5 harus dilakukan pengapuran untuk mendapatkan hasil tanam yang baik. Pengapuran dilakukan 1 bulan sebelum musim tanam, dengan dosis 2-3 ton/ha.

3.Teknik Penanaman
1. Penentuan Pola Tanam
                  Jarak tanam pada penanaman dengan membuat tugalan berkisar antara 20-40 cm. Jarak tanam yang biasa dipakai adalah 30 x 20 cm, 25 x 25 cm, atau 20 x 20 cm.

2. Pembuatan Lubang Tanam
Jika areal luas dan pengolahan tanah dilakukan dengan pembajakan, penanaman benih dilakukan menurut alur bajak sedalam kira-kira 5 cm. Sedangkan jarak jarak antara alur yang satu dengan yang lain dapat dibuat 50-60 cm, dan untuk alur ganda jarak tanam dibuat 20 cm.

 3.Cara Penanaman
Sistem penanaman yang biasa dilakukan adalah:Sistem tanaman tunggal Sistem tanaman campuran, Sistem tanaman tumpangsari.


4. Waktu Tanam
Karena umur kedelai menurut varietas yang dianjurkan berkisar antara 75-120 hari, maka sebaiknya kedelai ditanam menjelang akhir musim penghujan, yakni saat tanah agak kering tetapi masih mengandung cukup air.Waktu tanam yang tepat pada masing-masing daerah sangat berbeda.

4.Pemeliharaan Tanaman
1. Penjarangan dan Penyulaman
Kedelai mulai tumbuh kira-kira umur 5-6 hari. Dalam kenyataannya tidak semua biji yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, sehingga akan terlihat tidak seragam. Untuk menjaga agar produksi tetap baik, benih kedelai yang tidak tumbuh sebaiknya segera diganti dengan biji-biji yang baru yang telah dicampur Legin atau Nitrogen. Hal ini perlu dilakukan apabila jumlah benih yang tidak tumbuh mencapai lebih dari 10 %. Waktu penyulaman yang terbaik adalah sore hari.

2.      Penyiangan
Penyiangan ke-1 pada tanaman kedelai dilakukan pada umur 2-3 minggu. Penyiangan ke-2 dilakukan pada saat tanaman selesai berbunga, sekitar 6 minggu setelah tanam. Penyiangan ke-2 ini dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke-2 (pemupukan lanjutan). Penyiangan dapat dilakukan dengan cara mengikis gulma yang tumbuh dengan tangan atau kuret.

3.Pembubunan
Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya.

4.Pemupukan
 Dosis pupuk yang digunakan sangat tergantung pada jenis lahan dan kondisi tanah. Pada tanah subur atau tanah bekas ditanami padi dengan dosis pupuk tinggi, pemupukan tidak diperlukan. Pada tanah yang kurang subur, pemupukan dapat menaikkan hasil. Dosis pupuk secara tepat adalah sebagai berikut:

5.Pengairan dan Penyiraman
Kedelai menghendaki kondisi tanah yang lembab tetapi tidak becek. Kondisi seperti ini dibutuhkan sejak benih ditanam hingga pengisian polong. Saat menjelang panen, tanah sebaiknya dalam keadaan kering. Kekurangan air pada masa pertumbuhan akan menyebabkan tanaman kerdil, bahkan dapat menyebabkan kematian apabila kekeringan telah melalui batas toleransinya. Kekeringan pada masa pembungaan dan pengisian polong dapat menyebabkan kegagalan panen.

6.Waktu Penyemprotan Pestisida
 Penyemprotan pestisida dilakukan pada waktu yang berbeda-beda tergantung jenis hama dan pola penyerangannya.

·         Processing :
Pengumpulan dan Pengeringan
            Setelah pemungutan selesai, seluruh hasil panen hendaknya segera dijemur. Kedelai dikumpulkan kemudian dijemur di atas tikar, anyaman bambu, atau di lantai semen selama 3 hari.

Penyortiran dan Penggolongan
Terdapat beberapa cara untuk memisahkan biji dari kulit polongan. Diantaranya dengan cara memukul-mukul tumpukan brangkasan kedelai secara langsung dengan kayu atau brangkasan kedelai sebelum dipukul-pukul dimasukkan ke dalam karung, atau dirontokkan dengan alat pemotong padi.

Penyimpanan dan pengemasan
Sebagai tanaman pangan, kedelai dapat disimpan dalam jangka waktu cukup lama. Caranya kedelai disimpan di tempat kering dalam karung. Karung-karung kedelai ini ditumpuk pada tempat yang diberi alas kayu agar tidak langsung menyentuh tanah atau lantai. Apabila kedelai disimpan dalam waktu lama, maka setiap 2-3 bulan sekali harus dijemur lagi sampai kadar airnya sekitar 9-11 %.

·         Marketing :
                        Dari segi pemasaran, Indonesia belum mampu menerapkan prinsip bauran pemasaran dengan baik untuk produk Agribisnis kedelai.  Harga produk Agribisnis kedelai Indonesia relatif lebih mahal dibandingkan dengan produk competitor dari negara lain.  Hal ini terkait dengan produktivitas dan efisiensi produksi Sektor Agribisnis kedelai.  Belum lagi harga yang tinggi tersebut tidak diimnagani dengan kualitas produk yang memadai sesuai dengan nilai kompenasi yang dibayarkan oleh konsumen.
Sistem distribusi produk Agribisnis yang cenderung menggunakan rantai pemasaran yang panjang menyebabkan margin pemasaran relatif tinggi dan kemungkinan kerusakan produk lebih besar. Promosi terhadap produk unggulan Agribisnis yang dihasilkan Indonesia kurang dilakukan.
kedelai pada umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan. Oleh karena itu, pemasarannya mulai dari daerah sentra produksi ke industri pengolahan melalui pedagang, dan bermuara ke konsumen akhir. Selanjutnya dipasarkan ke pengerajin tahu dan tempe. Dalam pemasaran kedelai, petani umumnya berada dalam posisi tawar yang lemah, sehingga harga kedelai di tingkat petani lebih banyak ditentukan oleh pedagang. Biasanya kedelai mereka jual kepada pedagang yang dapat memberi harga yang baik. Kebanyakan perdagangan dilakukan di pasar (50%) dan di desa (25-30%). Kira-kira 4-7% petani menjual ke toko di ibu kota kabupaten jika kedelainya banyak; bila tidak, mereka menjual kepada tengkulak di desanya.

Kendala :

Berdasarkan survei ini (1983), ada beberapa kesimpulan tentang kendala pemasaran:
1. Produksi kedelai terpusat dalam kantong-kantong kecil yang letaknya saling berjauhan.
2. Pengendalian mutu sulit diterapkan.
3. Musim dan kombinasi usaha menyulitkan penilaian ekonomi.

Solusi :
            Peningkatan system produksi yang baik dan lancar dapat memperbaiki system pemasaran yang ada saat ini. Semakin meningkatknya produksi kedelai maka akan mengakibatkan lonjakan harga kedelai yang lebih stabil. Hal inilah yang memberikan peluang usaha yang lebih baik akan komoditas kedelai.

  Penelitian dan pengembangan (R&D)
        Pendekatan genetik untuk perbaikan kualitas protein diarahkan untuk mengeliminir keberadan Betha-congglycinin, sehingga kandungan sistein dan methionin pada biji kedelai akan meningkat.Kedelai memiliki kandungan isoflavon lebih tinggi dibanding tanaman bahan pangan lainnya. Isoflavon merupakan senyawa metabolit sekunder yang berfungsi sebagai antiestrogen, antioksidan dan antikarsinogenik. Isoflavon dari golongan genistien dan daidzien dinilai paling berperan untuk kesehatan. Teknologi produksi kedelai meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan, air, tanaman, dan organisme pengganggu tanaman (LATO). Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu, pembuatan saluran drainase, pemberian air yang cukup, pengendalian hama dan penyakit dengan sistem PHT, panen dan pasca panen dengan alsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya (Anonimous, 2004a). Oleh karena itu dukungan penelitian terhadap inovasi teknologi peningkatan produksi kedelai sangat diperlukan.
 Pendukung
Dukungan bagi Sektor Agribinis Indonesia perlu diberikan agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dalam bentuk kelembagaan, lembaga pembiayaan yang berbasis pada karakteristik Agribinis perlu dioptimalkan dan terus dikembangkan fungsinya, seperti lembaga penjamin dan bank khusus. Paling tidak, memanfaatkan infrastruktur perbankan yang ada sebagai wadah untuk membangun sistem pendanaan yang dapat bermanfaat atau dimanfaatkan. Pengembangan lembaga dan program promosi Agribisnis perlu terus dilakukan, terutama memanfaatkan yang sudah ada. Untuk lebih menduniakan Agribinis kedelai Indonesia, pemerintah seyogianya mengalokasikan dana yang cukup untuk membantu melakukan promosi yang luas.

4.SUBSYSTEM YANG PALING BERPERAN
       
      penelitian dan pengembangan
Upaya perbaikan kedelai sebagai bahan pangan dapat secara bertahap diarahkan pada peningkatan kuantitas dan kualitas protein serta peningkatan produktivitas.sehingga komoditi kedelai dalam negeri dapat bersaing dengan kedelai luar negeri.

5.MISI PENGEMBANGAN KOMODITI KEDELAI :
        
 Misi pengembangan,yaitu : 1) Membina dan mengembangkan kernarnpuan sumberdaya manusia (SDM) untuk meningkatkan daya saing, 2) Menumbuhkan keikutsertaan masyarakat khususnya dunia usaha dalam proses pengembangan komoditi kedelai. 3) Meningkatkan pendapatan petani kedelai .4) Pengembangan atau adanya pelatihan untuk petani kedelai yang lemah. 5) Meningkatkan pangsa ekspor 6) Mengarahkan untuk terciptanya pola petani yang efisiensi.

  6. ANALISIS SWOT          
A.STRENGTH (Kekuatan)
  • Adanya program bangkit kedelai, pengapuran, supra insus, opsus kedelai dan program gerakan mandiri kedelai yang diupayakan pemerintah untuk meningkatkan hasil produksi. Departemen Pertanian melaksanakan Program Bangkit Kedelai 2004 melalui pengembangan pusat pertumbuhan dengan dukungan dana dekonsentrasi di 20 provinsi pada lahan seluas 14.500 ha.
  • Meningkatnya pertumbuhan penduduk serta meningkatkan penduduk untuk mengkonsumsi kedelai sebagai kebutuhan sehingga kebutuhan akan kedelai meningkat. Komoditas kedelai saat ini tidak hanya diposisikan sebagai bahan pangan dan bahan baku industri pangan, namun juga ditempatkan sebagai bahan makanan sehat dan baku industri non-pangan. Menurut Departemen Pertanian, total konsumsi kedelai pada tahun 2007 mencapai 2,235 juta ton, pada tahun 2014 meningkat menjadi 2,646 juta ton, dan pada tahun 2021 meningkat lagi menjadi sekitar 3 juta ton.
  • ada program pengembangan usaha kedelai di 30 provinsi dengan luas tanam 577.139 ha serta pengembangan kemitraan pada 12 provinsi dengan 10 mitra usaha BUMN dan swasta pada areal seluas 250 ribu ha.
  •  
B.WEAKNEES (Kelemahan)
  • Sarana produksi belum tersedia (benih,pupuk,pestisida) sesuai dengan prinsip 4 tepat yaitu tepat mutu,harga,kualitas dan lokasi.
  • Gairah petani untuk melakukan budidaya kedelai menurun disebabkan tanaman kedelai tidak menguntunggkan.dan kebijakan impor. Dicontohkan pada tahun 2002 biaya produksi yang harus dikeluarkan petani untuk menanam kedelai Rp 2,32 juta/ha, sedangkan pendapatan yang diperoleh hanya Rp 2,8 juta/ha sehingga keuntungannya hanya Rp 517.000/ha.
  • Belum banyaknya keterkaitan swasta untuk mengembangkan usaha agribisnis kedelai antara lain.
  • Ketrampilan dan pengawalan dalam melaksanakan belum optimal alam penerapan teknologi panen dan banyaknya organisme penganggu tanaman kedelai.
  • Komoditas kedelai, hanya sekitar 5% yang menggunakan teknologi baru benih.
lembaga perbenihan yang terkait dalam sistem perbenihan formal belum berperan secara optimal.
  • program intensifikasi maupun ektensifikasi untuk tanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian  sekitar 80% belum  menggunakan benih sumber varietas unggul baru yang berkualitas.
  • Pertumbuhan kredit ke sektor pertanian relatif rendah dibandingkan dengan sektor ekonomi lain.

C.OPPURTUNITIES (Peluang)
  • Kemajuan teknologi yang tersedia saat ini ,apabila dimanfaatkan di Indonesia membuka peluang meningkatkan produktivitas kedelai.
  • Pemanfaatan lahan yang tidak terpakai sebagai lahan pengembangan kedelai.
  • Adanya peluang dalam perbaikan mutu kedelai,dengan pendekatan genetika yang dilakukan oleh Negara cina,dengan diperlukan program terintegrasi antar disiplin ilmu dan kelembagaan.
·         Lima BUMN berkomitmen menggenjot peningkatan produksi komoditas kedelai. Lima BUMN yang melakukan sinergi tersebut adalah Perum Perhutani, PT Sang Hyang Sri (Persero), PT Pupuk Kujang, PT Petrokimia Gresik, dan PT Pertani (Persero). Mereka telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk meningkatkan produksi kedelai nasional di Jakarta, Kamis, 27 Maret 2008.
  • Dengan langkanya kedelai impor mulai akhir-akhir ini akibat lonjakan harga kedelai dunia jelas saja mengakibatkan lonjakan harga kedelai yang sangat tinggi.di Indonesia. Dengan kata lain, potensi pasar bagi komoditas kedelai di dalam negeri cukup besar untuk masa mendatang.
  • Adanya kebijakan pemerintah, yaitu Departemen Pertanian melalui Program Revitasisai Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) telah menetapkan lima komoditas pangan utama mendesak untuk diusahakan swa sembada. Kelima komoditas tersebut adalah beras, jagung, kedelai, gula dan daging sapi.
D. THREATS ( Ancaman )
  • Ketersediaan sumber gen,belum tersedianya metode seleksi yang efisiensi dan biaya untuk seleksi ( bahan kimia ) mahal.
  • Terjadinya kekeringan pada lahan pertanian kedelai.
  • Banyak nya impor yang dilakukan pemerintah atau swasta sehingga kedelai local tidak laku dipasaran. Pada tahun 2001, produksi kedelai mencapai 826.932 ton dan jumlah permintaan mencapai 1,96 juta ton sehingga volume impor mencapai1,136 juta ton. Pada tahun 2002 diperkirakan terjadi peningkatan sekitar 12 persen.
  • Adanya kebijakan pembangunan pertanian yang keliru dari Pemerintah yang lebih mengutamakan usaha-usaha agrobisnis perkebunan yang berlahan luas seperti kelapa sawit, disisi lain pembangunan tanaman pangan terbengkalai.
  • infrastruktur irigasi pertanian kedelai tidak dibangun bahkan yang sudah ada pun tidak dipelihara sehingga kuantitas dan kualitasnya menurun, sehingga menjadi salah satu penyebab turunnya produksi kedelai.

0 komentar:

Posting Komentar

@mira_rara ツ
@Mirasandrana

hidup tuh punya tujuan ツ untuk sekarang,esok,dan masa depan ツ.bissmilahirohmanirohim ツI love Allah ツ

rengat,riau ,indonesia · http://mira-sandrana.blogspot.com
Sunting profil anda

* 161 Tweets
* 350 Following
* 88 Followers

 

"Pio_Igo" :) Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting